The Invisible Gorilla/Gorila Tak Kasat Mata

Author: the admin  //  Category: Resensi

Judul Buku : The Invisible Gorilla/Gorila Tak Kasat Mata:

****************** (dan bagaimana intuisi telah menipu kita dengan berbagai cara)

Penulis       : Christopher Chabris dan Daniel Simons

Penerbit     : Linikata, Jakarta

Tahun         : 2009

Dimensi      : 15,5 X 23,5 cm. iv + 372 p. (hard cover + jacket)

Jangan terkecoh dengan judulnya, palagi gambar sampulnya. Meski bernuansa humor, namun buku ini sangat serius. Kenapa? Karena buku ini adalah studi komprehensif yang dirangkum kedua penulisnya, yang sangat kredibel. Betapa tidak, keduanya adalah profesor psikologi di Harvard University, Amerika Serikat. Ya, itu adalah salah satu kampus terbaik di planet ini! Kedua penulis sendiri kemudian menerima Ig Nobel Prize di bidang psikologi tahun 2004 atas penelitian berjudul “gorila di tengah kita” yang dilakukan tahun 2001.

Lantas, apakah isi buku ini jadi garing karenanya? Justru tidak. Buku ini sangat menghentak dan membangunkan kesadaran kita. Berisi rangkuman belasan studi dari berbagai kampus dan peneliti yang sangat dihormati, dengan responden atau subyek penelitian ribuan orang, isi buku ini benar-benar sangat valid dan sahih. Bahasanya enak dan mengalir, meski terus terang terjemahan dan editing bahasa Indonesia-nya kurang sempurna. (Satu yang paling mengganggu adalah penggantian “tapi” menjadi “namun” yang jelas menggunakan fitur “replace” dari aplikasi pengolah kata. Akibatnya banyak sekali kata “tetapi” berubah menjadi “teNamun”.)

Saya sendiri mencoba mengabaikan kelemahan itu dan fokus pada pemaparan studi ilmiah dalam buku ini. Tanpa ada daftar isi, pembaca diharapkan membaca buku ini secara urut dari halaman pertama hingga terakhir. Karena seperti novel, Anda tidak akan mengerti ceritanya bila melompat-lompat saat membaca. (Meski untuk novel bisa saja sekedar mengetahui ending-nya. Misalnya saya sering curang langsung membaca bab terakhir untuk mengetahui siapa sebenarnya pelaku kejahatan dalam novel misteri-detektif karya Agatha Christie).

Untuk buku ini, yang dikupas adalah ilusi kita terhadap kemampuan kita sendiri. Mulai dari ilusi perhatian yang dimulai dari eksperimen gorila hingga  mitos-mitos intuisi yang umum berlaku. Penelitian sendiri berbentuk eksperimen soal perhatian terhadap video yang ditayangkan. Kenapa disebut “gorila di tengah kita”? Karena dalam video yang sengaja dibuat ini ada adegan “gorila yang lewat”. Video berupa pertandingan basket dengan aktor-aktor dari mahasiswa Harvard. Responden juga dari mahasiswa Harvard (yang tidak ikut sebagai aktor tentunya) diminta menghitung jumlah operan dari regu berkaus putih. Ternyata, setengah dari responden tidak menyadari ada “gorila lewat di tengah pertandingan”! Karena itu sampul buku ini dengan jenaka memajang foto ilustrasi ada gorila duduk di bangku pemberhentian bus sambil membaca koran, dan orang di sebelahnya tidak sadar (bahasa Jawa-nya: nggak ngeh) adanya keanehan itu!

Di buku ini juga diungkap kepalsuan efek Mozart yang sering kita dengar. Diklaim mendengarkan musik Mozart akan meningkatkan kecerdasan (nilai IQ=Intellectual Quotient) terutama pada bayi. Ternyata mitos ini bersumber dari euforia masyarakat dan penafsiran keliru atas penelitian dari Frances Rauscher, Gordon Shaw dan Katherine Ky yang dimuat jurnal ilmiah Nature tahun 1993. Dengan penjelasan gamblang, ditegaskan bahwa “jadi pintar dengan cara kilat” itu mustahil (p. 232-279). Tentu saja kita bisa dengan mudah menarik kaitan kepalsuan klaim serupa seperti “aktivasi otak tengah” atau semacamnya.

Penasaran? Baca saja. Anda akan terperangah ternyata kita banyak “over-estimate” terhadap kemampuan kognisi atau pikiran kita sendiri. Saya sendiri jadi “terbangun” setelah membaca buku ini.

Kalau mau membaca mengenai penelitian dan juga melihat “video gorila” itu, silahkan kunjungi situs http://www.theinvisiblegorilla.com.

Kecerdasan Ekologis: Mengungkap Rahasia Di Balik Produk-Produk Yang Kita Beli

Author: the admin  //  Category: Resensi

Buku Daniel Goleman: Ecological Intelligence

Judul Buku : Ecological Intelligence/Kecerdasan Ekologis:

****************** Mengungkap Rahasia di Balik Produk-produk yang Kita Beli

Penulis       : Daniel Goleman

Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun         : 2009

Dimensi      : 15 X 23 cm. viii +245 p.

Buku karya Daniel Goleman ini terutama menerangkan mengenai implementasi istilah baru ini: Kecerdasan Ekologis. Ia melakukan riset mendalam mengenai beragam produk yang ada di pasaran Amerika Serikat. Ternyata, banyak di antaranya yang tidak memiliki sifat ramah lingkungan. Konsumen kesulitan mendapatkan data karena banyak perusahaan menolak melakukannya. Bahkan label atau etiket yang terdapat pada kemasan produk pun kerapkali tidak memadai.

Goleman memulai dengan ulasan singkat mengenai pentingnya kecerdasan ekologis, dengan definisi darinya sendiri. Serupa dengan bukunya yang terkenal sebelumnya yang mempopulerkan istilah baru yaitu “Emotional Intelligence”, di buku ini Goleman pun menjelaskan sendiri istilah “Ecological Intelligence”.

Di halaman 37 buku tersebut, Goleman menjelaskan pengertian “kecerdasan ekologis”:

“Kecerdasan ekologis yaitu kemampuan kita untuk beradaptasi terhadap ceruk ekologis tempat kita berada. Ekologis artinya pemahaman terhadap organisme dan ekosistemnya, sedangkan kecerdasan adalah kapasitas untuk belajar dari pengalaman dan secara efektif berhadapan dengan lingkungan.”

Dalam konteks ini, “kecerdasan ekologis” menjadi dimaknai sendiri oleh Goleman. Penggunaan kata “ceruk” misalnya, adalah karena sebelumnya Goleman mencontohkan tentang masyarakat suku Sher yang hidup di suatu “ceruk” di kaki pegunungan Himalaya di Tibet. Di ceruk ini, meski kecil, namun masyarakat Sher begitu menghargai alam tempat mereka tinggal. Tentu saja Goleman mengharapkan kita mencontoh mereka.

Lebih jauh lagi, Goleman mengetengahkan risetnya mengenai berbagai produk yang ada di masyarakat. Meski, tentu saja karena ia tinggal di Amerika Serikat, banyak yang tidak dikenal di Indonesia. Namun, contohnya untuk misalnya memilih membelikan mainan dari kayu daur ulang yang aman untuk cucunya dibandingkan mainan buatan pabrik patut ditiru. (p. 156). Goleman menegaskan, meskipun lebih mahal harganya, keamanan produk itu dari bahan kimia dan bahan berbahaya lain lebih penting.

Di halaman 48 ia juga menegaskan bahwa “tak diragukan lagi manfaat yang didapat dari berbelanja hasil bumi dan produk lokal”. Selain lebih alami, ia juga menerangkan perlunya membantu perekonomian lokal. Tentu saja dibandingkan malah “menyumbang” kepada perusahan global yang merajai pasar produk massal.

Selain mendidik konsumen agar lebih jeli memilih produk yang “ramah lingkungan” atau “aman secara ekologis”, ia juga mendesak perlunya aturan tegas dari pemerintah (di A.S. antara lain diwakili FDA-Food & Drug Agency) kepada produsen. Termasuk di sini pencantuman label tentang bahan-bahan kimia apa saja yang terkandung di suatu produk. Juga penggantian bahan kimia yang berbahaya dengan yang lebih baik. Namun seperti diutarakannya di halaman 118, ia menerangkan bahwa produsen menentangnya. Bahkan untuk hal sederhana seperti pemasangan label kandungan lemah yang membedakan antara lemak sehat dengan lemak trans (yang tak sehat).

Memang bukan buku untuk dibaca sambil lalu. Namun niscaya membacanya akan sangat memperkaya wawasan dan kepedulian kita terhadap bumi tercinta ini.

Catatan: Untuk ulasan Peran Blogger dalam Membudayakan Kercerdasan Ekologis bisa dibaca di http://www.lifeschool-indonesia.com/?p=52

Versi Alfa Diluncurkan

Author: the admin  //  Category: Dari Pemilik

Alhamdulillah, pada hari Senin, 10 Mei 2010 ini versi Alfa diluncurkan. Setiap hari akan diadakan perbaikan sehingga bila ada yang berkunjung akan mendapati penambahan data terus-menerus. Fokus utama adalah melengkapi seluruh daftar buku koleksi yang ada. Setelah itu, versi Beta akan diluncurkan dengan fokus menuliskan kutipan/rangkuman/resensi tiap buku. Bila diperlukan dimungkinkan pula dimunculkan versi Charlie untuk melengkapi yang masih dianggap kurang. Bila telah memadai, barulah akan diluncurkan dengan pengumuman kepada publik.

Mohon do’a restunya.

Catatan Sang Politikus Muda Golkar

Author: Bhayu  //  Category: Resensi

Judul Buku : Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan

Penulis       : Indra Jaya Piliang

Penerbit     : Ombak, Yogyakarta

Tahun         : 2010

Dimensi      : 14,5 X 21 cm. xxiii + 568 p.

Sesuai judulnya, buku ini adalah otobiografi. Maka, meski masih berusia relatif muda -37 tahun- IJP -demikian nama panjang Indra Jaya Piliang biasa disingkat- merasa telah perlu menulis memoar.

Sebenarnya, buku ini nyaris ‘telanjang’ menguliti sepak-terjang IJP di dunia politik yang masih seumur jagung. Bisa jadi, hal ini dilatarbelakangi kebiasaan penulis yang gemar menuliskan catatan harian atau diary seperti diakuinya sendiri (xi-xvii). Beberapa bagian membuat saya mengernyitkan dahi, mengapa IJP dengan terus-terang ‘menelanjangi’ dirinya sendiri?

Sebutlah kisahnya di p. 66-67 tentang bagaimana ia menemui sejumlah tokoh dalam rangka memuluskan upayanya masuk Partai Golkar (PG). Nama-nama tokoh itu disebutkan gamblang, bahkan ada nama yang jarang dikenal publik tapi ternyata berperan besar dan disebut IJP sebagai “tokoh yang mencari bibit-bibit politisi muda PG”. Apakah tidak ada kekuatiran -meski tidak ada yang buruk di sana- bahwa nama-nama yang dituliskan IJP di bukunya sebenarnya memang tak pernah mau dikenal publik?

Demikian pula di banyak bagian IJP memaparkan dengan cukup lugas bagaimana rivalitas terjadi di lapangan, terutama antar caleg. Meski bagi orang awam seperti saya terasa berarti, informasi ini riskan karena terkesan ‘menguak borok sendiri’ terutama bagi PG. Saya jadi bingung, mengapa terkesan IJP seperti ‘membocorkan’ langkah-langkahnya di dunia politik tanpa dikemas secara cantik. Ini memudahkan pihak lain untuk mempelajari dan tentu saja untuk kembali mengalahkan IJP dalam kesempatan lain.

Padahal, judul buku ini sudah cukup mencerminkan: “Memoar Tiga Kekalahan”. Mustinya, IJP bisa belajar sesuatu dari kekalahannya itu. Bukan cuma soal logistik atau keuangan semata, tapi sebenarnya juga soal strategi. Dan justru dengan buku ini IJP jelas ‘buka kartu’ tentang strateginya.

Buat saya, yang tidak berminat bersaing dengan IJP apalagi dalam wadah PG, membaca buku ini jelas memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan.  Saya jadi mengetahui betapa dunia politik yang sesungguhnya memang keras. Adagium “tiada kawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan” terasa benar saat membaca buku ini.

Bagaimanapun, saya mengacungkan jempol kepada kawan lama saya ini yang kini sudah berhasil menjadi ‘selebriti’ di dunia politik. Penerbitan buku ini makin mempertegas status sebagai ‘pendatang baru potensial’ di dunia politik. Meski ia jelas mempersingkat biografinya, termasuk meniadakan sejumlah nama kawan lama yang saya tahu dulu sempat berperan dalam hidupnya, itu tidak menurunkan nikmatnya membaca buku ini. Saya juga termasuk yang tidak disebut sama sekali dalam buku ini. Padahal, dalam dua paragraf kecil di buku ini setidaknya saya punya peranan.

Tapi tak apa, saya toh bisa menulis buku sendiri nanti. Sekarang, saya hendak mempelajari dulu bukunya, guna mengambil pelajaran dari kekalahan seorang IJP di panggung politik. Selamat Indra, bagaimanapun Indonesia membutuhkan pemikiranmu.

Resensi ini awalnya dimuat di LifeSchool, 12 April 2010,  dimuat kembali dengan sedikit perubahan.

Buku Tandingan yang Bukan Tandingan

Author: Bhayu  //  Category: Resensi

Judul     : Hanya Fitnah & Cari Sensasi:George Revisi Buku

Penulis   : Setiyardi Negara

Penerbit : Senopati Media, Jakarta

Tahun     : 2010

Dimensi  : 32 p.

Kalau meresensi buku ini, sebenarnya lucu. Kenapa? Karena isi buku ini sebenarnya hanyalah resensi. Jadinya, ya resensi atas resensi. Memang, menurut penulisnya sendiri Setiyardi Negara saat launching kemarin, mulanya tulisannya memang resensi. Tapi karena panjang lantas dijadikan buku. Rupanya, buku itu dimaksudkan sebagai jawaban atau bantahan “tidak resmi” atas buku George Junus Aditjondro yang kontroversial: Membongkar Gurita Cikeas: di Balik Skandal Bank Century (resensi bisa klik di sini). Sebabnya buku ini ditulis oleh seorang wartawan, bukan dari pihak yang merasa dirugikan akibat penulisan buku George, walau saat peluncuran penulisnya didampingi oleh Direktur Riset & Publikasi Akbar Tandjung Institute Alfan Alfian. Dalam kata pengantarnya di halaman 4, penulis buku ini menyatakan jelas maksud ini: “Secara singkat, buku ini ingin memberikan sudut pandang berbeda atas buku karya George. Saya menilai George terlalu gegabah dalam menarik kesimpulan hanya berdasar data sekunder yang belum diverifikasi. Secara serampangan dia menganggap sumber informasinya, yang berupa kliping media massa yang masih sumir, sebagai kebenaran.”

Kalau buku George dibilang tidak bermutu oleh sebagian kalangan, saya tidak tahu musti memakai kata apa untuk menilai isi buku ini. Sebagai resensi, penulisnya memang cukup awas dalam mengamati halaman per halaman buku yang diresensinya. Akan tetapi, sebagai sebuah buku, apalagi dimaksudkan sebagai “jawaban” atas buku lain, buku setebal hanya 31 halaman ini sangat jauh dari memadai. Saya sampai tertawa saat membaca isi buku ini. Walau saya harus mengacungkan jempol atas kemasan lux buku ini. Tidak hanya dicetak di atas kertas art paper 120 gr, tapi juga seluruh halamannya berwarna! Informasi yang saya dapat buku ini akan dijual seharga Rp 15.000,00 per edisi. Menjadi pertanyaan bagi saya karena ada statement dari penulis buku ini bahwa ia membuat buku untuk cari untung. Secara finansial, apalagi dengan rabat toko buku sebesar 35 %, rasanya kecil kemungkinan ada keuntungan dari penjualan buku ini. Malah, bisa jadi defisit. So, pertanyaannya, dari mana defisit itu ditutup? Apalagi penulis buku ini sekaligus adalah pimpinan penerbit buku ini sendiri atau istilahnya “self publishing”. Hebat!

Sekarang, mari kita lihat isi buku ini.

Dimulai dengan prolog yang berupa kronologis penerbitan buku karya George yang dipaparkan dalam bentuk narasi, bukan pointers. Cukup rinci walau penulis buku ini justru kembali mengulang kesalahan George, banyak mengutip dari media. Satu contoh dari halaman 6, dituliskan pendapat Amien Rais tentagn buku ini: “Seperti dikutip berbagai media, mantan Ketua MPR RI ini mengaku…”. Kata “seperti dikutip berbagai media” pun sulit diverifikasi, media yang mana? Hanya saja, untuk kredit foto, saya acungkan jempol bagi penulisnya karena ia dengan gentle menyebutkan sumbernya yang semuanya dari situs internet.

Bagian berikutnya setelah prolog diberi judul “Fenomena Isi Buku”. Setelah mengawali kalimatnya di bagian ini dengan kembali menegaskan bahwa buku George “tidak didukung data dan fakta yang akurat”, penulis cukup cermat merangkum adanya tiga fenomena dalam buku George (p.10):

  1. Tudingan jaringan bisnis dan politik Presiden dan keluarganya.
  2. Tudingan pemanfaatan jaringan, untuk pemenangan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009.
  3. Tudingan keterkaitan jaringan dengan dengan kasus Bank Century.

Sayangnya, setelah cukup cermat membuat pointers tadi, dalam bagian selanjutnya yaitu “Meninjau Isi”, penulis tidak membangun argumen jawaban atau bantahan atas buku George yang dianggapnya “hanya bersumber pada data sekunder belaka” dengan data lagi. Ia hanya mengulang-ulang berbagai kalimat senada seperti kalimat barusan. Misalnya, “Entah dari mana George tahu tentang uang simpanan Boedi Sampoerna dan Hartati Moerdaya di Bank Century?” (p. 12.), atau “Penulis bahkan tidak melampirkan sumber referensi dari laporan tersebut. Sehingga informasi ini sama sekali tidak dapat dipercaya. Tingkat distorsi atas data ini sangat kuat.” (p. 13). Intinya penulis menyerang banyak digunakannya kalimat hipotesis dalam buku George, yang menurutnya diakibatkan oleh ketidakyakinannya pada opininya sendiri.

Menurut hemat saya, bila memang buku ini hendak dijadikan jawaban atau bantahan yang lebih “ilmiah” daripada buku George, semestinya ketiadaan atau kekurangan data dalam buku George dibalas dengan data. Misalnya untuk pernyataan di halaman 12 yang saya kutip di atas, ia menuliskan “berdasarkan data yang diperoleh dari Divisi Pelayanan Nasabah Bank Century seperti ditunjukkan oleh Mr.X  selaku kepala divisinya kepada penulis, uang simpanan Boedi Sampoerna di bank tersebut hanya 18 juta dollar saja.” Dengan begitu, maka sontak bangunan argumen prasangka George akan runtuh berantakan. Karena tidak ada data tandingan, maka keseluruhan buku cuma seolah hanya mengatakan satu hal saja: “George bohong! Tidak ada data valid untuk isi bukunya!”

Bahkan tanpa disadarinya, penulis terkesan menulis buku ini agak tergesa-gesa sehingga gaya George pun juga dipakainya. Misalnya di halaman 19-20 ia melakukan bantahan terhadap “keterkaitan promosi Batik Allure dengan Ibu Negara Any Yudhoyono” dengan kalimat “Publik tahu, Allure Batik memulai suksesnya berawal dari sebuah garasi di Kawasan Simpruk, Jakarta. Modal awalnya Rp100juta”. Wait a minute, publik mana yang tahu soal Allure Batik? Saya saja yang merasa cukup “beredar” baru tahu soal Allure Batik dari buku George. Meski ada kalimat “Begitu Ade Kartika, Wakil Direktur sekaligus co-owner Allure Batik bercerita” (p.20) yang menandakan penulis melakukan wawancara, namun disayangkan ada asumsi yang terkesan pembelaan bertubi-tubi. Coba baca kalimat berikut: “Bukankah tugas setiap warga negara, apalagi sebagai Ibu Negara untuk mempromosikan karya anak bangsa. Batik jelas merupakan milik bangsa Indonesia. Dan setiap produsen yang ingin mempromosikan barang dagangannya, pasti akan menggunakan bintang iklan yang layak jual. Ini teori promosi yang sederhana. kalau ada produk yang membutuhkan ikon atau bintang iklan untuk sebuah tema provokasi dan sensasional, mungkin George Aditjondro akan dipilih produsen untuk ikonnya.” (p.20). Kalimat ini yang diakhiri dengan kalimat sinis kepada George adalah asumsi dari “logika berpikir ala simsalabim”, sebuah istilah yang oleh penulis justru diterakan kepada George (p.18).

Batik memang milik Indonesia. Tapi siapa bilang batik hanya bisa diwakili oleh satu produsen saja bernama “Allure Batik” ? Logikanya, kalau memang ingin memajukan batik Indonesia saja, tidak perlu memilih satu merek (brand) tertentu, namun justru menyebutkan kalau batik yang dipakai asal daerah mana. Misalnya batik Pekalongan, atau menyebut pola motif seperti batik Kawung atau Sido Mukti asal Yogyakarta. Di sini penulis jatuh pada argumen yang terkesan tendensius, terlalu bersemangat membela satu pihak seraya menjatuhkan pihak lain.

Meski saya setuju pada argumen dasarnya bahwa buku Aditjondro sangat kekurangan data dan rujukan, seperti juga saya tuliskan dalam resensinya, namun disayangkan buku jawaban atau bantahan ini juga tidak menyertakan data, rujukan atau refernsi pembanding. Sehingga 12 halaman “resensi” tentang isi buku Aditjondro semata pengulangan atas argumen dasar itu saja. Masih untung fotonya besar-besar dan berwarna, sehingga menyejukkan mata memandangnya. :) Walau saya memuji kerajinan penulis mengikuti dan mencatat kapan jadwal penayangan bantahan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh tulisan George di berbagai stasiun televisi, namun disayangkan isi bantahan pihak-pihak itu saat bicara di televisi malah tidak ditulis dengan jelas.

Di akhir buku, ada bagian “Epilog” sebelum “Tentang Penulis”. Di sini malah penulis dengan fatal justru cuma copy-paste berita internet, dengan sumber cuma tiga: VIVAnews, ANTARA News, dan detikNews. Padahal, kalau mau sedikit rajin, penulis bisa membuat epilog berupa argumen pamungkas yang akan meruntuhkan argumen buku George secara total. Apalagi, penulis berpengalaman sebagai wartawan Tempo sama dengan George. Seharusnya sebagai “saudara seperguruan” penulis bisa tahu teknik penulisan yang efektif untuk membantah tulisan orang lain.

Kesimpulannya, baik buku George maupun jawabannya ini sama-sama kurang data primer. Hanya saja sebagai pionir, buku George memiliki daya kejut lebih di pasaran. Apalagi isinya kontroversial yang bisa jadi bahan gosip di warung kopi. Maka, kalau buku jawaban lain akan ditulis, akan lebih baik bila bisa “menghabisi” buku George dengan data primer yang telak. Dengan begitu,maka citra SBY dan pemerintahannya serta para pendukungnya yang “dicemarkan” buku George akan terkoreksi signifikan. Kesimpulannya, ini buku tandingan yang bukan tandingan.

Tulisan ini semula diposting di LifeSchool, 7 Januari 2010 dan Kompasiana, dimuat kembali dengan sedikit modifikasi.

Membongkar Rahasia Penguasa ala George

Author: Bhayu  //  Category: Resensi

Judul      : Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century

Penulis   : George Junus Aditjondro

Penerbit : Galangpress, Yogyakarta

Tahun     : 2010

Pertama membaca buku ini, sorry to say, memang seperti kliping belaka. Akan tetapi, penerbitan buku ini sangat tepat waktu mengingat kasus Bank Century yang melibatkan lembaga-lembaga besar dan juga ‘orang-orang besar’ tengah hangat-hangatnya. Apalagi, di halaman 16-17 buku ini dibuka dengan copy surat rekomendasi Kabareskrim Mabes Polri (editor buku kurang menambahkan akronim “Ka”, sehingga tertulis hanya Bareskrim) Komjen Pol. Susno Duadji tertanggal 7 dan 17 April 2009. Bagi para wartawan, mungkin surat ini “basi”. Tapi bagi awam, tentu ‘pembocoran’ surat ini makin membuka mata tentang kelakuan “jenderal murah senyum” itu. Termasuk tentunya makin membuka mata publik mengenai ada apa sebenarnya di balik Century-gate.

Laiknya kliping, sistematika buku ini memang berantakan. Tidak ada keterkaitan antara satu bagian dengan bagian lain. Bahkan tidak ada bab. Dari daftar isi, George membagi buku ini dengan judul-judul:

  • Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century
  • Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas
  • Pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center
  • Yayasan-yayasan yang Berafiliasi dengan SBY
  • Kaitan dengan Bisnis Keluarga Cikeas
  • Yayasan-yayasan yang Berafiliasi dengan Ny. Ani Yudhoyono
  • Pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg-caleg Partai Demokrat

Dari daftar isi tersebut, tampak bahwa memang George memfokuskan “serangan” ke SBY dan keluarganya. Premis-premisnya memang “menyeramkan”, George mengatakan di p. 31: “Pengalihan dana melalui Bank Century, LKBN Antara, atau korporasi-korporasi lain, terdorong oleh gencarnya usaha SBY serta para pendukungnya, untuk kembali memastikan menduduki jabatan kepresidenan yang kedua dan terakhir. Maka tak heran manakala terbukti jumlah pemilih Partai Demokrat melonjak hampir tiga kali lipat dari 7 % dalam Pemilu legislatif tahun 2004 menjadi sekitar 20 % dalam Pemilu legislatif 2009″.

George juga menyebutkan mengenai peran yayasan-yayasan pendukung SBY, baik yang berafiliasi dengan SBY langsung maupun dengan Ani SBY. Di p. 35 misalnya, George menyatakan: “Selain melalui lebih dari selusin tim kampanye (lihat Lampiran 1 Tim-Tim Kampanye Partai Demokrat dan Capres-Cawapres SBY-Boediono), penggalangan dukungan politis dan ekonomis bagi SBY dimotori oleh yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono.” Tak lupa George pun menyebutkan nama yayasan-yayasan itu:

  • Yayasan Puri Cikeas (afiliasi ke SBY)
  • Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam (afiliasi ke SBY)
  • Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (afiliasi ke SBY)
  • Yayasan Mutu Manikam Nusantara (afiliasi ke Ny. Ani)
  • Yayasan Batik Indonesia (afiliasi ke Ny. Ani)
  • Yayasan Sulam Indonesia (afiliasi ke Ny. Ani)

Tentu saja, ada banyak data yang disampaikan George. Akan tetapi, kebanyakan data justru merupakan hasil copy-paste dari media massa. Sebutlah tulisan tentang bisnis Ibas (Edhie Baskoro) di p.49-52 yang cuma ‘comotan’ dari Indonesia Monitor versi online. Banyak pula yang sudah membacanya dalam versi cetak yang sama persis, termasuk saya. Atau tulisan mengenai Siti Hartati Murdaya yang dikutip dari Forum Keadilan (p. 89). Sehingga, bagi banyak wartawan tulisan-tulisan George tidaklah mengejutkan. Walau, harus diakui bagi awam memang lumayan mengagetkan. Apalagi, George dengan berani menyebutkan nama-nama di dalam bukunya.

Memang, bagi awam terutama yang jarang memperhatikan media massa, banyak hal yang diungkap buku ini. Misalnya mengenai keterkaitan SBY dan Ny Ani Yudhoyono dengan konglomerat Syamsul Nursalim. Nama ini adalah pemilik Gajah Tunggal Group dan BDNI yang menunggak BLBI senilai Rp 23,5 trilyun, namun tiba-tiba telah mengantongi Surat Keterangan Lunas (SKL) (p.142). SKL ini sendiri merupakan implikasi dari Inpres No. 8/2002 yang dikeluarkan Presiden Megawati terhadap sejumlah obligor BLBI. Keterkaitan itu menjadi pertanyaan besar saat orang kepercayaan Syamsul Nursalim bernama Artalyta Suryani tertangkap tangan oleh KPK saat menyerahkan uang suap kepada jaksa Urip Tri Gunawan, dimana SBY kemudian membantah pernah mengenal Artalyta yang oleh teman-temannya dikenal dengan nama Ayin. Padahal, ada bukti foto SBY dan Ny. Ani Yudhoyono pernah menghadiri resepsi pernikahan anak Artalyta pada bulan April 2007. Hal ini dituliskan oleh George di lampiran 4 (p.139-157).

Inti utama buku ini sebenarnya bukanlah tentang Bank Century, tapi justru tentang kiprah yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono. Yayasan-yayasan itu menurut George sangat perlu dicurigai memakai uang publik. Seperti ditulisnya di p. 37: “Biaya makan malam ribuan jemaah zikir itu mungkin dapat diambil dari anggaran rutin kepresidenan yang telah disetujui DPR-RI. Tapi bagaimana yayasan ini mensponsori biaya ibadah umroh bagi lima rombongan ulama (@50 orang per rombongan) di mana setiap orang menelan biaya seribu real?” Hipotesis George, khusus untuk Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, pembiayaan yayasan ini dibantu oleh dua orang bendaharanya (p.40).

Bagi saya pribadi, hipotesis George yang menyatakan skandal Bank Century merupakan ulah orang-orang dekat SBY dalam rangka menggalang dana bagi pemenangan Pemilu 2009 masih perlu dibuktikan lebih tajam. Tulisan dalam buku yang tidak bersistematika jelas ini kurang fokus dan buat saya hanya berfungsi seperti “whistle blower” saja. Fakta-faktanya belum banyak yang baru, hanya yang sudah dimuat media massa. Apalagi, pemaparan yang berpanjang-panjang justru soal yayasan-yayasannya, yang tidak dikaitkan langsung dengan Bank Century.

Kalau boleh mengambil kesimpulan, tampaknya George ingin pembaca berasumsi sendiri bahwa keterkaitan nama-nama yang disebut berkali-kali di berbagai tempat menunjukkan adanya konflik kepentingan. Terutama karena nama-nama itu banyak yang berkontribusi pada pemenangan Pemilu 2009 bagi SBY-Boediono. Nama paling disorot justru Syamsul Nursalim, pemilik BDNI penunggak BLBI yang dianggap dekat dengan keluarga SBY. Padahal, Syamsul tidak punya keterkaitan dengan Bank Century. Ini jadi seperti pelebaran masalah. Inti dari buku ini memang jadinya seperti hanya menjadikan SBY sebagai target dengan meng-gebyah uyah semua hal seolah jadi kesalahan SBY semata. Apalagi ada kutipan-kutipan berita soal kecurangan caleg Partai Demokrat yang tidak disertai fakta baru.

Kalau mau konsisten, seharusnya judul bukunya diganti saja: “Membongkar  jaringan pemenangan Pemilu SBY” atau semacamnya. Judul buku yang berbicara mengenai Bank Century malah hanya dibahas sepanjang 3 halaman di bagian pertama saja, itu pun berupa analisa pribadi George dengan fakta seadanya. Kurang kuat bahkan bagi sebuah penulisan jurnalisme investigasi, apalagi untuk jadi sebuah bukti hukum. Memang, pembaca akan bisa “merasa”-kan adanya sebuah “penutupan” atas fakta-fakta yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Dan George sudah berupaya mengungkapnya. Namun, isi buku ini sebenarnya tidaklah terlalu mengkuatirkan.

Maka, reaksi “orang kejaksaan” yang menelepon Gramedia atau aksi borong di toko buku lain rasanya terlalu berlebihan. Malah jadinya seperti ketakutan pada bayangan belaka. Kalau memang benar, ngapain takut sama buku kan? ;)

Tulisan ini semula diposting di LifeSchool dua hari berturut-turut, 28 Desember 2009 dan 29 Desember 2009 . Bagian awal tulisan asli yang dianggap kurang relevan sebagai resensi tidak disertakan di sini.

Sharing Pengalaman Sang Marsekal

Author: Bhayu  //  Category: Resensi

Judul      : Awas Ketabrak Pesawat Terbang!

Penulis   : Chappy Hakim

Penerbit : Grasindo, Jakarta.

Tahun     : 2009

Dimensi  : xiv + 289 p.

Walau topik dunia kedirgantaraan –terutama sipil- kurang menarik bagi saya, tapi membaca buku Chappy ini saya seakan diberikan kursus singkat atau minimal briefing mengenai dunia yang saya tidak kenal itu. Misalnya membuat saya lebih mafhum tentang perspektif para praktisi kedirgantaraan tentang kasus Marwoto Komar. Nama ini adalah Captain Pilot Garuda  GA-200 yang diseret ke pengadilan pidana karena dituding bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat yang dikemudikannya pada tanggal  7 Maret 2007. Kecelakaan itu sendiri terjadi saat mendarat di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan mengakibatkan jatuhnya 21 korban tewas karena pesawat terbakar habis. Ternyata, pengadilan itu memecahkan rekor dunia karena baru pertama kali ada pilot yang diseret ke pengadilan pidana karena dianggap bersalah mengakibatkan kecelakaan pesawat (p.31-43). Padahal, pilot, sebagai profesi khusus, memiliki jalur sendiri seperti halnya dokter dan pengacara untuk menangani hal semacam ini. Setahu saya, di AS misalnya, seorang pilot yang setelah diadakan penyelidikan mendalam oleh para pakar penerbangan –bukan polisi- dinyatakan bersalah dalam suatu kasus kecelakaan penerbangan, maka lisensi terbangnya dicabut untuk selamanya oleh otoritas penerbangan AS, dalam hal ini adalah FAA. Ini sebenarnya sudah mematikan hak perdatanya dan bisa dipastikan si pilot akan kesulitan mencari nafkah di bidang lain karena keahliannya adalah terbang. Tapi tidak pernah terjadi si pilot diseret ke penjara melalui pengadilan umum dengan tuduhan melanggar hukum pidana! Bahkan Asosiasi Pilot Internasional (IFALPA) turut memberikan perhatian dengan mempertanyakan keputusan Pengadilan Negeri Sleman yang memvonis Marwoto Komar bersalah dan dihukum penjara 2 tahun dalam sidang tanggal 7 April 2009 (p. 54-56). Pemaparan Chappy membuka mata saya mengenai peristiwa pengadilan pilot yang kurang mendapat liputan dari media massa itu.

Juga pada amburadulnya –istilah ini sering sekali dipakai Chappy dalam buku- dunia penerbangan Indonesia. Mulai dari airport yang tidak memenuhi standar internasional, peralatan dan SDM ATC yang sami mawon, hingga minimnya perhatian pemerintah pada dunia penerbangan. Membaca bagian pertama buku Chappy yang memang diberi judul “Penerbangan” karena mengumpulkan tulisan bertema tersebut membuat saya gemas. Apalagi, sebagai seorang yang amat mencintai Indonesia, saya merasakan kegemasan yang sama dengan Chappy dalam melihat amburadulnya negeri ini.

Saya baru bisa bernafas lega dan lepas dari kegemasan saat menelusuri tulisan di bagian-bagian selanjutnya. Berdasarkan daftar isi, berturut-turut terdapat bagian Politik, Tokoh, Teknologi dan Cerpen di buku ini, setelah bagian pertama yang diisi Penerbangan. Akan tetapi, saya mendapati ketidaksesuaian antara daftar isi dengan pembagian di halaman aslinya. Ternyata, ada satu bagian yang mustinya tercantum sebagai bagian tersendiri namun di daftar isi justru diletakkan sebagai judul artikel belaka. Bagian itu adalah Kisah Inspiratif dan Renungan (p.197). Judul bagianTeknologi  di daftar isi ternyata di halaman isinya juga tidak sesuai, dimana di sana tercantum lebih panjang: Teknologi dan Visi ke Depan. Di samping itu, rasanya penamaan Cerpen untuk bagian terakhir tidak tepat. Karena isinya sama sekali bukan cerpen atau cerita pendek, melainkan sharing pengalaman, beberapa ada yang ditulis oleh kerabat dekat Chappy. Namun itu mungkin bukan kesalahan Chappy, melainkan tim editor dari pihak penerbit Grasindo saja yang terburu-buru karena ‘kejar tayang’ untuk menerbitkan buku ini.

Pendeknya, membaca buku ini membuat saya terinspirasi dan mendapatkan banyak pengetahuan serta perspektif baru. Apalagi kebanyakan masalah yang diangkat adalah yang menarik bagi Chappy Hakim, seorang purnawirawan perwira tinggi TNI AU dan pencinta kedirgantaraan. Tema-tema yang mungkin bagi saya agak terlalu jauh dari lebenswelt saya. Lumayan-lah untuk penyegaran di antara membaca berita-berita media massa kita yang nyaris seragam. Bagi saya, buku ini juga bagus karena secara detail menuliskan analisa mengenai berbagai peristiwa di dunia kedirgantaraan terutama kecelakaan, di mana pemilik buku akan tinggal membuka saja bila memerlukan data mengenai hal tersebut. Juga data mengenai sejumlah tokoh dan kejadian lain yang diulas oleh Chappy, minimal memberikan penyegaran kembali tentang peristiwa yang telah berlalu, dimana kesegarannya segera tergantikan berita lain di media massa.

Tulisan ini semula dimuat di LifeSchool, 20 Desember 2009, bagian awal pada tulisan asli yang menceritakan suasana launching dan beberapa hal kurang relevan tidak dimuat di sini.

Memahami Persoalan Bangsa ala Jurnalis

Author: Bhayu  //  Category: Resensi

Judul     : Indonesia For Sale

Penulis   : Dandhy Dwi Laksono

Penerbit : Pedati, Surabaya

Tahun     : 2009

Dimensi  : 14,5 X 21 cm, xvi + 316 p.

Sebagai wartawan muda yang sudah sarat pengalaman, Dandhy yang antara lain pernah menjadi Kepala Seksi Peliputan di RCTI dan Pemimpin Redaksi Aceh Kita ini piawai menginvestigasi. Namun selain itu, rupanya ia juga getol mengumpulkan data. Maka,  jadilah buku ini seperti sebuah lontaran uneg-uneg yang “bergizi”, alih-alih sekedar sebagai “pengisi waktu nganggur” seperti diutarakannya saat launching.

Oke, kita masuk ke pembahasan soal isinya. Meski secara akademis Dandhy adalah seorang sarjana hubungan internasional, namun isi buku ini justru soal ekonomi. Dan di soal inilah saya jadi merasa goblok karena diajari Dandhy lewat bukunya.

Gaya penulisan buku ini menggunakan alur imajiner dengan menuturkan peristiwa dari sudut pandang penulis yang berinteraksi dengan berbagai elemen masyarakat seperti sopir taksi, tukang parkir atau penjaga WC umum. Dari interaksi inilah lahir obrolan yang dituangkan dalam tulisan bergaya dialogis antara penulis dengan elemen masyarakat tadi. Yang diobrolkan? Ya persoalan ekonomi yang hebatnya, kebanyakan makro.

Wawasan dan data Dandhy amat luas dalam persoalan ini. Pembaca akan jadi mafhum ternyata persoalan ekonomi yang dianggap “urusan wong gedean” itu jelas mempengaruhi semua sektor kehidupan. Artinya, mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Misalnya harga minyak bumi yang jejingkrakan di New York Merchantile Exchange (NYMEX) baik jenis light sweet atau brent north sea (p.36) berpengaruh pada pendapatan supir taksi. Saya yang jelas bukan pelaku ekonomi makro pun pun jadi ‘makin ngeh’ betapa anehnya ‘permainan’ ekonomi makro di Indonesia. Misalnya fakta bahwa kita sebagai produsen minyak tidak mampu menentukan patokan harga minyak sendiri. Meski ada yang namanya Indonesian Crude Price (ICP), ternyata sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 tahun 2005, harga minyak berpatokan pada harga di Singapura, yang nota bene sama sekali tak punya ladang minyak. Patokan harga ini namanya MOPS (Mean of Platts Singapore atau populer disebut Mid Oil Platts Singapore), alasannya karena patokan harga di dalam negeri belum terbentuk (p. 48).

Berbagai insight information terkait kebijakan ekonomi makro dan moneter pun diungkapnya. Misalnya soal pro-kontra pemberian hak eksplorasi blok Cepu kepada Exxon Mobil di halaman 229-230. Ia misalnya dengan berani menuliskan nama politisi DPR yang semula mempermasalahkan hasil negosiasi pemerintah itu dengan mengusulkan hak interpelasi dan kemudian mencabutnya kembali setelah partainya berkompromi. Atau tentang swastanisasi air di Jakarta (p.92-98). Analisanya pun mudah dicerna, seperti saat menerangkan utang luar negeri kita (p.238-p.241). Namun terutama yang patut dipuji justru saat ia menerangkan neolib di berbagai bagian  tersebar dalam buku ini, terutama di bab 3, 4, dan 5. Neolib ini, seperti kita semua tahu, adalah satu terma  ekonomi “seksi” yang ramai diperdebatkan saat Pilpres 2009 lalu.

Apa yang menjadi tujuan Dandhy menulis buku ini ternyata agar persoalan ekonomi mudah dipahami oleh orang kebanyakan seperti supir taksi, tukang parkir atau penjaga WC tadi. Namun, meski sudah disederhanakan dan mudah dimengerti bagi non-sarjana ekonomi, menurut saya tulisan tadi tetap ‘terlalu berat’. Apalagi kalau pasarnya adalah orang kebanyakan. Terlebih dengan penuturan melompat-lompat bahkan ada ”jebakan batman” seperti soal waktu penuturan di satu cerita yang tidak sama seperti di halaman 39. Walau begitu, buku ini berhasil membuat persoalan rumit menjadi sederhana tanpa menyederhanakan persoalan. Terlebih gaya penulisannya yang bertutur bahkan di beberapa bagian bak membaca Supernova (2001)-nya Dewi “Dee” Lestari -memilih cara penulisan bergaya fiksi namun menyelipkan fakta- cukup membuat nyaman pembaca. Walau begitu, untuk sampai menyamai Supernova, apalagi karya monumental Seno Gumira Adjidarma Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997) tentu Dandhy masih perlu banyak pengembangan lagi.

Sampai-sampai dalam “blurp”-nya di sampul belakang buku Arswendo Atmowiloto menyebut “buku ini lucu”. Bolehlah disebut lucu, asal jangan mentertawakan rakyat saja yang dalam buku itu pun disebut sebagai obyek pelengkap penderita saja dari sistem ekonomi kita. Sepakat kan?

Tulisan ini semula diposting di LifeSchool, 7 Oktober 2009 dan di Politikana. Bagian awal tulisan asli yang menceritakan soal launchingnya tidak dimuat ulang di sini.

Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses

Author: Bhayu  //  Category: Resensi

Judul      : Kiat Praktis Membuka Usaha: Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses

Penulis   : Pietra Sarosa

Penerbit : Elex Media Komputindo

Dimensi  : xvii+214 p.

Membuka usaha adalah satu langkah besar yang jelas membutuhkan pemikiran dan pertimbangan matang. Ini karena menyangkut hajat hidup kita dan keluarga yang dihidupi. Di samping itu, ini adalah juga pilihan hidup. Karena seperti diutarakan Robert Kiyosaki, ada empat cara mencari nafkah: menjadi karyawan (employee), profesional bekerja sendiri (self-employee), usahawan (business owner), atau penanam modal (investor). Membuka usaha berarti menjadi usahawan atau business owner.

Di sinilah penulis buku ini memberikan panduan komprehensif tentang bagaimana cara membangun bisnis dari awal. Gaya bahasanya santai, namun dilengkapi contoh konkret plus kertas kerja di setiap akhir bab. Guna kertas kerja ini adalah untuk menganalisa kebutuhan usaha pembaca buku ini. Karena tentu saja kebutuhan tiap orang untuk memulai usaha berbeda.

Di bab 3, Pietra menganalisa faktor-faktor kunci untuk membuka usaha. Ia menyebutkan yaitu: kepribadian, jenis usaha, hingga aspek teknis usaha. Dalam bab-bab selanjutnya, Pietra juga menyarankan agar kita memulai usaha sesuai kemampuan kita, kalau perlu dari rumah sendiri atau dimulai dari hobi. Namun, ia mengingatkan pentingnya mentor untuk membimbing usahawan baru. Dengan adanya mentor, seorang usahawan akan dibantu untuk melangkah tahap demi tahap dan diingatkan bila melenceng.

Sebagai penulis yang mulanya berprofesi sebagai perencana keuangan, Pietra tak lupa menyertakan cara mengkalkulasi keuangan usaha dalam satu bab tersendiri. Di dalamnya tersedia tabel neraca sebagai contoh. Juga contoh tabel perhitungan laba-rugi dan anggaran operasional. Tak lupa ia menyertakan pula rumus untuk menghitung titik impas atau BEP (Break Even Point). Itu masih ditambah dengan pengenalan terhadap jenis-jenis kredit usaha. Semua ini tentu amat berguna terutama bagi usahawan yang awam terhadap keuangan. Padahal, keuangan jelas faktor vital yang amat penting bagi usahawan atau entrepreneur.

Seakan tak ingin bukunya kurang lengkap, penulisnya juga menuliskan tip singkat untuk melakukan promosi. Buku ini diakhiri dengan satu bab yang membahas mengenai evaluasi, bahkan bila memang sampai pada keputusan pahit harus mengakhiri usaha sekali pun. Sebuah pandangan realistis yang terasa di seluruh tulisan dalam buku ini.

Bagi yang mau memulai usaha, membaca buku ini akan menambah pengetahun dan ketrampilan. Sementara bagi yang sudah berusaha, dapat memperbaiki faktor yang dianggap perlu. Pendeknya, ini buku wajib bagi usahawan yang baru mulai dan ingin menjalankannya dengan kehati-hatian.

Tulisan ini pernah dimuat di LifeSchool, 12 November 2008.

SITUS INI SEDANG DALAM PEMBANGUNAN

Author: the admin  //  Category: Dari Pemilik

Selamat datang di situs pustakabhayu.com milik Bhayu M.H. Mohon maaf masih belum dapat dinikmati karena sedang dalam proses pembuatan. Insya Allah versi Alfa akan diluncurkan hari Senin, 10 Mei 2010.

Mohon do’a restunya.